Di sisi lain, anak-anak yatim pun menyuarakan keinginan mereka. Tak jauh dari kebutuhan dasar, sepatu dan baju mengaji. Kepolosan mereka menjadi cermin bahwa kebahagiaan sering kali hadir dari hal-hal yang paling sederhana.
Mendengar itu semua, Kapolda tak sekadar tersenyum. Ia bertindak.
“Tolong dicatat semua kebutuhan beserta jumlah dan ukurannya,” ujarnya tegas, memastikan setiap harapan tak berhenti sebagai cerita.
Tak hanya itu, dukungan juga mengalir untuk tim kreatif yayasan yang tengah merintis usaha kuliner. Sebuah oven digital pun dijanjikan, sebagai langkah kecil menuju kemandirian ekonomi. Bahkan, kebutuhan kontrak sekretariat yayasan yang hampir berakhir turut menjadi perhatian.
Di balik semua itu, terselip sosok inspiratif: Aipda Dian Wihendro Ratno, Bhabinkamtibmas Banuaran. Ia bukan sekadar aparat keamanan, tetapi juga penggerak sosial yang mampu merajut kolaborasi lintas sektor, dari kepolisian hingga masyarakat.
Kapolda pun tak menutupi apresiasinya. Baginya, apa yang dilakukan Aipda Dian adalah contoh nyata bagaimana keamanan dan kesejahteraan bisa berjalan beriringan.
Camat Lubuk Begalung, Nofiandi Amir, menyebut momen ini sebagai wujud kolaborasi yang ideal. Ia menilai, sinergi antara kepolisian, BKKBN, tenaga kesehatan, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun ketahanan keluarga yang kuat.
“Kami berharap ini menjadi contoh bagi kelurahan lain,” ujarnya.
Kunjungan itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, bagi para lansia yang memimpikan wisuda, bagi anak yatim yang menginginkan sepatu baru, dan bagi para relawan yang berjuang dalam diam. Hari itu menjadi pengingat bahwa perhatian, sekecil apa pun, bisa menyalakan harapan.
Di Banuaran, harapan itu kini tumbuh. Dari mukena, dari gamis wisuda, hingga oven sederhana. Semuanya menjadi simbol bahwa kepedulian masih hidup, dan masa depan masih layak diperjuangkan. (Zetri)

