“Alhamdulillah, kita tidak salah pilih. Selain tanggap dan peduli, Pak Rusdi dengan cepat menindaklanjuti aspirasi masyarakat. Lampu mati, jalan berlubang, dan kepentingan warga lainnya selalu ditanggapi dengan cepat,” ujar Saribulih.
Selepas Shalat Isya, Gelak Tawa Anak-Anak Hidupkan Malam
Ada pemandangan menggembirakan setelah lampu jalan menerangi lingkungan Banuaran.
Selepas menunaikan salat Isya di masjid, anak-anak terlihat bermain dan berolahraga bersama di bawah cahaya PJU.
Mereka bercengkerama, berlarian, dan menikmati kebersamaan dengan teman sebaya. Suasana tersebut menghadirkan kembali nuansa kehidupan kampung yang akrab dengan interaksi sosial.
Kehadiran penerangan jalan juga memberi ruang bagi anak-anak untuk mengisi waktu luang dengan kegiatan bersama, tanpa terus-menerus terpaku pada layar smartphone.
Ketua Pos 7 Posyandu Cempaka Putih Banuaran, Zetri Murni, S.S., menyambut positif suasana tersebut.
“Gelak tawa mereka mengingatkan kita pada masa lalu. Maklum, pada masa itu memang belum ada gadget. Semoga hal ini bernilai positif bagi mereka untuk saling berinteraksi,” ujarnya.
Dari Semangkuk Kolak Ketan, Mengalir Nilai Amal dan Kebersamaan
Kisah sederhana di Banuaran menjadi gambaran bagaimana pembangunan fisik dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai religius dan kearifan lokal Minangkabau.
Kaum ibu berbagi makanan, kaum bapak menyumbangkan tenaga melalui gotong royong, sementara fasilitas penerangan jalan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Semangat tersebut sejalan dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Ma’idah ayat 2 tentang anjuran saling menolong dalam kebajikan dan ketakwaan.
Kolak ketan mungkin habis dinikmati dalam sekejap. Namun, kehangatan silaturahmi dan semangat berbagi yang menyertainya menjadi nilai yang patut terus dirawat.
Begitu pula dengan 18 titik PJU melalui Pokir H. Rusdi. Cahaya lampunya diharapkan tidak hanya menerangi jalan, tetapi juga mendukung aktivitas positif masyarakat.
Sebab, keberkahan sebuah pembangunan bukan semata-mata diukur dari apa yang berdiri atau terpasang, melainkan dari seberapa besar manfaat yang dirasakan sesama. (Salih)

